Pelatihan Jurnalistik warga yang digelar JRKBB di Studio Bisma FM, Gambiran, Banyuwangi berlangsung lancar dan penuh antusias, memperkuat kapasitas masyarakat dalam menyajikan informasi yang akurat dan berimbang/Foto: PojokEtane.web.id/Aguk Wahyu Nuryadi.
BANYUWANGI,PojokEtane.web.id – Jaringan Radio Komunitas Broadcast Banyuwangi (JRKBB) menggelar pelatihan peningkatan kapasitas kru melalui kegiatan reportase jurnalistik di Studio Bisma FM, Gambiran, Minggu (12/4/2026).
Kegiatan ini dirangkaikan dengan momentum halal bihalal dan menghadirkan pegiat Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) serta wartawan media online.
Pembina JRKBB, Aguk Wahyu Nuryadi, menegaskan pentingnya peran media komunitas sebagai sarana informasi dan edukasi, bukan sekadar hiburan. Ia mendorong seluruh anggota JRKBB untuk memperkaya konten siaran.
“Sebagai insan pers, kita harus menyadari bahwa fungsi media tidak hanya hiburan, tetapi juga informasi dan edukasi.
Program radio jangan hanya karaoke, tetapi juga talkshow, podcast, pemutaran iklan layanan masyarakat, serta penyampaian berita,”ujarnya.
Aguk juga mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi serta penyajian informasi berbasis fakta.
Ia menyinggung momentum Hari Pers Nasional pada 9 Februari lalu sebagai penguat komitmen insan media untuk melawan hoaks.
“Pendengar harus dibuat cerdas dan melek informasi dengan berita yang faktual, bukan hoaks.
Hari ini kita praktik membaca berita dan laporan langsung di lapangan, sekaligus beradaptasi dengan era digital melalui media sosial,”terangnya.
Di akhir sambutannya, Aguk mengajak seluruh peserta mendoakan mantan Ketua JRKI Jawa Timur, Untung Surojo, serta orang tua pengurus JRKBB yang telah wafat.
Sementara itu, Wakil Ketua JRKI Jawa Timur, Hadi Purwanto, mengajak peserta menjadi jurnalis warga yang aktif dan bermanfaat di era transformasi digital.
Ia membekali peserta dengan prinsip dasar jurnalistik, seperti 5W+1H, objektivitas, keberimbangan, serta teknik penulisan yang runtut dan sesuai kaidah bahasa.
“Berita harus berbasis fakta, bukan opini. Lengkapi juga dengan dokumentasi dan keterangan yang mendukung,”tegasnya.
Pelatihan semakin menarik dengan kehadiran jurnalis sekaligus content creator, Maulana Affandi.
Ia memaparkan strategi memahami demografi audiens dan waktu siaran utama (prime time) yang efektif.
“Segmentasi pendengar itu penting. Misalnya, pekerja migran di Taiwan dan Hong Kong atau ibu rumah tangga memiliki waktu dengar tertentu yang harus dipahami,”ungapnya.

Peserta juga diajak praktik siaran digital menggunakan platform seperti Spotify. Hal ini membuka peluang baru bagi radio komunitas untuk berkembang tanpa keterbatasan perangkat konvensional.
“Sekarang kita bisa memiliki beberapa channel radio tanpa harus punya pemancar atau studio besar, bahkan bisa dimonetisasi secara profesional,”jelas Maulana.
Pimpinan Bisma FM, Hariyanto, turut mendorong kru radio komunitas untuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital guna memperluas jaringan dan meningkatkan pendapatan.
“Kita harus mengikuti perkembangan zaman. Banyak platform seperti Facebook, TikTok, dan YouTube yang bisa dimanfaatkan untuk siaran streaming,”ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada Narasumber serta kartu pers bagi anggota JRKBB. Acara kemudian diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Sukirman, pelaku usaha sekaligus anggota Radio Krisna FM Wongsorejo,”Pungkasnya.












