Warga Binaan Lapas Banyuwangi Rampungkan Al-Qur’an Raksasa, Kini Digunakan Rutin untuk Tadarus/Foto : Pojoketane.web.id (Ikhsan Suryadi).
BANYUWANGI,Pojoketane.web.id – Tembok besar yang menjulang di Lapas Banyuwangi tak menyurutkan semangat berkarya tiga warga binaan, dibalik keterbatasan ruang gerak, mereka justru memanfaatkan waktu dengan menulis Al-Qur’an berukuran besar secara manual.
Karya tersebut tidak hanya menjadi bentuk pembinaan spiritual, tetapi juga diharapkan dapat digunakan untuk kegiatan tadarus atau “kadarusan” bersama selama bulan Ramadan di lingkungan lapas,”Kamis (25/3/26).
Al-qur’an berukuran satu meter ini diselesaikan tiga orang warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi, juga dimanfaatkan sebagai sarana utama tadarus bersama.
Karya monumental ini sebagai program pembinaan berbasis pondok pesantren yang dijalankan di Lapas Banyuwangi, khususnya dalam bidang seni kaligrafi.
Menariknya, ketiga warga binaan yang terlibat dalam proyek ini sebelumnya sama sekali tidak memiliki dasar ilmu menulis Al-Qur’an maupun keterampilan kaligrafi.
Kemampuan itu mereka peroleh melalui bimbingan intensif hasil kerja sama pihak lapas dengan pengrajin kaligrafi profesional yang secara khusus didatangkan untuk memberikan pelatihan.
Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menjelaskan bahwa proses pengerjaan Al-Qur’an raksasa ini memakan waktu kurang lebih 10 bulan.
Penulisan dimulai sejak momentum Ramadhan tahun lalu dan diselesaikan dengan penuh ketelitian,”terang, Kepala Lapas Banyuwangi.
“Al-Qur’an ini adalah bukti keberhasilan pembinaan berbasis pondok pesantren kami. Meskipun para penulisnya berangkat dari nol tanpa keahlian kaligrafi, berkat ketekunan dan bimbingan pengrajin yang kami hadirkan, mereka mampu melahirkan mahakarya yang luar biasa ini,”kata, Wayan.
Ia menegaskan bahwa akurasi ayat menjadi prioritas utama dalam proses penulisan.
Karena itu, sebelum digunakan secara resmi, naskah Al-Qur’an tersebut telah melalui proses tashih atau pemeriksaan mendalam oleh Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Qur’an.
“Kami memastikan setiap huruf dan harakatnya benar. Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, dilakukan pembetulan pada bagian-bagian tertentu hingga akhirnya dijilid kembali untuk kedua kalinya guna memastikan kualitas fisik dan kerapiannya.

Kebanggaan juga dirasakan oleh salah satu penulis utama Al-Qur’an tersebut, Moch Chanafi.
Ia mengaku proses selama 10 bulan menulis kalam ilahi menjadi perjalanan spiritual yang penuh makna.
“Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Qur’an raksasa ini, apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali.
Selama menulis, saya belajar banyak hal untuk bekal kembali ke masyarakat nanti. Saya menjadi lebih sabar dan lebih meresapi nilai-nilai luhur dari setiap ayat yang saya goreskan,”ungkapnya.
“Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Qur’an raksasa ini, apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali.
Selama menulis, saya belajar banyak hal untuk bekal kembali ke masyarakat nanti.
Saya menjadi lebih sabar dan lebih meresapi nilai-nilai luhur dari setiap ayat yang saya goreskan,”terang Chanafi.
Kini, Al-Qur’an raksasa tersebut menjadi jantung kegiatan religi di Lapas Banyuwangi.
Keberadaannya bukan sekadar simbol kreativitas, melainkan representasi semangat hijrah dan transformasi positif para warga binaan dalam menjemput masa depan yang lebih baik,”Pungkas I Wayan Nurasta Wibawa.














